Resensi “Guru” Arief Rachman

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Arief Rachman Guru
Penulis : Ukim Komarudin
Penerbit : Esensi, Erlangga Group
Cetakan : Pertama
Jumlah Halaman : 197 halaman
Harga : Rp. 150.000,-
Tahun terbit : 2015

image

Buku ini berisi buah pemikiran dari seorang guru yang mampu memikat hati saya sewaktu mengikuti Simposium guru tahun 2015 lalu, beliau adalah pak Arif.  Melalui buku catatan Ukim Komarudin ini kita dapat mengetahui apa yang sebaiknya seorang guru lakukan dalam usahanya menumbuhkan karakter siswa. Buku ini dibagi menjadi 3 bagian utama, yakni ulasan mengenai siswa, tenaga pengajar dan manajemen pendidikan. Dibahas dengan terperinci dan mempertahankan gaya bahasa pak Arif.
Pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan siswa, didukung dengan budaya sekolah yang dibiasakan dengan cara khas pak Arif yang menarik dan mudah diingat, yang mana budaya ini dapat diterapkan di jenjang pendidikan SD, SMP maupun SMA. Guna memenuhi empat pilar pendidikan menurut UNESCO, yakni : Learning To Know, Learning To Do, Learning To be dan Learing To Live Together.
Tenaga pengajar yang professional menjadi peran penting untuk tercapainya pendidikan yang bermutu, dengan mengedepankan nilai pada watak bukan otak. Seorang guru diharapkan mempunyai 3 kriteria yang berkualitas, yakni: kehadiran yang berkualitas, sikap yang baik dan prestasi yang dicapai. Sehingga ketiga hal ini selanjutnya diharapkan dapat  menginspirasi dan menggerakkan siswa.
Peran otang tua dalam mendidik menjadi dasar untuk kuatnya karakter seorang siswa, dan orang tua teladan adalah tipe yang paling ideal dalam mengasuh anak. Hubungan baik anatara orang tua dan sekolah juga menjadi kunci dalam evaluasi dan pengembangan sekolah itu sendiri. Didukung manajemen sekolah yang baik, mulai dari penetapan visi, cara menjaga reputasi sekolah serta gaya kepemimpinan yang baik juga dibahas dalam buku ini.
Dengan bahasa yang lugas dan penuh makna, pemikiran pak Arif ini sangat bagus untuk diketahui oleh seluruh guru di Negeri ini, untuk pendidikan di Indonesia yang lebih baik.
Salam Belajar.

Resensi “Bringing the Best in the Child”

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Bringing the Best in the Child, Memuncullkan yang Terbaik dari Anak
Penulis : Anand Krishna
Penerbit : Anand Krishna Global Co-Operation
Cetakan : Pertama
Halaman : 90 halaman
Harga : Rp. 70.500,-
Tahun terbit : 2016

Pendidikan dimaksudkan untuk “memunculkan yang terbaik yang ada dalam diri anak itu”, yang ada di dalam diri anak ini tidak ada kaitannya dengan potensi bawaan anak. Dalam hal ini adalah “Kemanusiaan” . Kemanusiaan haruslah dipahami sebagai keharuman yang mendasari semuanya, segala ilmu pengetahuan tentang alam dan keahlian tertentu dipelajari hanya untuk menambah kemanusiaan yang emmang sudah ada di dalam setiap diri anak.
Menurut pengarang pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang berkarakter. Penulis juga menyarankan empat nilai kemanusiaan, yakni:
1. Nilai Kebenaran (Satya)
2. Kebajikan (Dharma)
3. Kedamaian (Santi), dan 
4. Kasih Sayang (Prema)
Keempat nilai inilah yang paling penting dan mendasar. Para guru dan pendidik hendaklah mempraktikkan nilai tersebut sebelum mengajarkannya kepada anak-anak.
Nilai yang diajarkan melalui keteladanan seorang guru selanjutnya akan menghasilkan energy, yakni energy kehendak yang berkaitan erat dengan hati, energy kebijaksanaan yang erat kaitannya dengan pikiran sehingga dapat menghasilkan ketepatan bertindak.
Buku ini menggunakan bahasa Inggris dan terjemahan bahasa Indonesia di bagian belakang. Bahasa penulis amat mudah dipahami dan lugas. Krishna juga memberikan metode praktis untuk memunculkan energi yang sudah ada di dalam diri anak yang dapat diterapkan oleh guru di kelas. Sayangnya sedikit sekali contoh yang diberikan oleh penulis untuk lebih menanamkan nilai-nilai pada diri anak.
Kesimpulannya adalah, setiap anak sudah mempunyai potensi terbaik dalam diri mereka, hanya tugas seorang guru lah yang harus pandai memunculkan yang terbaik itu dari anak, buku ini adalah solusinya. Selamat membaca para guru, pendidik dan orang tua.

image

Membawa senjata tajam mengudara, saya tidak takut.

Bepergian ke tempat wisata atau berkunjung di rumah saudara tentu kita ingin membawa buah tangan untuk keluarga di rumah atau sahabat yang sudah pesan duluan sebelum kita pergi. Buah tangan bisa makanan atau kenang-kenangan yang berupa miniatur ikon tempat wisata atau kota yang kita kunjungi.

Di Sumba, selain terkenal dengan Kuda Sandelwood dan hamparan padang sabananya yang menawan, adalagi parang. Parang teramat lekat dengan masyarakat Sumba, tidak bisa dipisahkan lagi. Selain digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti memangkas rumput, mengupas kelapa sampai memotong hewan. Parang juga digunakan sebagai alat adat, di gunakan sebagai mahar untuk melamar yang kemudian ditukar dengan benda lain atau hewan. Hal inilah yang menjadi daya tarik Sumba, Parang menjadi satu benda yang layak untuk dijadikan buah tangan.

Awalnya agak ragu untuk membawa parang ini mengudara, karena dikategorikan dalam senjata tajam. Tapi setelah mengalami sendiri, kini saatnya aku berbagi untukmu.

Pastikan senjata tajam yang kamu bawa terbungkus rapi dan terlihat, jadi ditenteng saja, jangan sengaja disembunyikan ya? Hihi. Daripada kamu masukan ke koper dan harus membogkarnya waktu pengecekan kemanan. Oh ya, kamu harus percaya, dan yang penting yakin bahwa kamu tidak akan menggunakan senjata tajam ini tanpa pengawasan orang tua. LOH

image
Bungkus

Waktu check in, petugas check in akan langsung mengarahkanmu ke bagian Security, untuk memastikan senjata tajam aman selama di pesawat. Cukup dengan menggunakan kartu identitas dan petugas keamanan akan memberimu bukti serah terima barang.

image
Petugas keamanan bandara

Dan terbanglah dengan nyaman. Untuk sementara kamu harus berpisah dari si buah tangan, tidak mengapa, buah tanganmu berada di tangan yang tepat. Dan mendaratlah dengan aman.

image
Bukti serah terima parang

Pengambilan parang tidaklah sama dengan pengambilan bagasi biasa, dengan menggunakan bukti serah terima dari petugas di bandara keberangkatan dan kartu identitas diri, kamu harus mengambil senjata tajam di bagian khusus Security item, atau kalau petugasnya baik dia akan sudah berdiri di pintu keluar terminal kedatangan sambil memastikan senjata tajam mu aman. Dan selamat berjumpa lagi dengan si buah tangan. So sweet.

image
Spot foto di pengambilan bagasi, Eltari Kupang
image
Di pintu keluar

Perpisahan itu hanya sementara, karena kita akan dipertemukan lagi dan lagi dan lagi, kalau Tuhan menghendaki. Salam.

Jika Hidup = Transit, singgahlah aku di Dewata

Perjalanan udara dari Sumba ke Jawa mengharuskan pilot singgah di Bali, Penerbangan dari atau ke Sumba hanya bisa ditempuh melalui Rute Kupang atau Bali. Tidak jarang waktu Transit di Bandara Ngurah Rai bisa mencapai lebih dari 3 jam, belum lagi ramainya lalu lintas udara sering membuat perjalananmu tertunda karena delay,  menunggu di ruang tunggu bisa jadi hal yang terlalu biasa jika kamu transit di Bali. Ayo keluar bandara!

Kali ini aku ceritakan pengalaman ku transit di Bali. Butuh waktu 1 jam untuk keluar dari Bandara Internasional Ngurah Rai, karena diharuskan mengambil bagasi. Barang bawaan sengaja aku titipkan di Airport Luggage Service yang ada di sebelah kiri pintu kedatangan. Tarif penitipan IDR50.000 untuk tiap unit tiap hari, tidak memperhitungkan berat maupun ukuran. Harga ini sama untuk domestik maupun asing, dan tidak bisa ditawar (aku sudah coba dengan teknik senyum manis domestik ku. Gagal)

Dari Bandara aku berjalan keluar menuju tempat parkir motor, sambil pesen ojek online dong ya biar cepet, sampai di luar bandara aku sudah ditunggu seseorang berjaket hijau, meluncurlah aku ke Jl. Gajah Mada, Denpasar.  Karena tujuan ku yang sebenarnya “out off range” dari batas jasa ojek. butuh waktu 45 Menit untuk sampai ke jalan yang agak mirip sama Jl. Malioboro di Jogja. Biaya IDR30.000. Cring (bunyi mesin kasir)

image
Jl. Gajah Mada, Denpasar

Menyempatkan berfoto sambil memesan ojek untuk sambung menuju Sibangkaja. 45 Menit keluar dari kota Denpasar dan sampailah aku di rumah sahabat yang saya hubungi sebelumnya untuk mengantar ke tempat tujuan saya. Biaya IDR 30.0000 (cringg)

Singgah untuk minum teh dan makan pisang rebus, berangkatlah kami menuju tempat yang sudah lama ingin saya kunjungi. Biaya IDR0.(Weewwwww)
Hanya 15 menit perjalanan menggunakan motor yang anti macet, sampailah kita di Ubud Palace, tempat bersejarah yang tata ruang dan bangunannya masih tetap dipertahankan sampai sekarang. Kesan pertama di Ubud adalah:
“Tunggu..ini Indonesia bukan sih? “ karena wisatawan asing rasa-rasanya melebihi wisatawan domestik, di kanan kiri jalan didominasi toko yang menjual hasil seni, tempat makan dengan menu dari berbagai negara, tempat Massage  dan Yoga juga toko yang menjual bahan-bahan alam Indonesia.
Memasuki pintu utama Ubud Palace yang khas berwarna oranye, dipadukan dengan batuan ukir dan kain kuning atau putih hitam dalam kotak kotak. Terhampar halaman yang cukup luas, di area ini biasa ditampilkan tarian di malam hari yang tiketnya banyak di jual sama penyelenggara di depan Puri, untuk tari kecak IDR100.000.

image
Pintu masuk Ubud Palace

Memasuki pintu kedua, ada dua pintu di sisi kanan dan kiri, simetris, ada beberapa puri yang digunakan untuk menyimpan alat musik dan beberapa barang. Berbelok ke kiri, terdapat pintu lagi menuju ke dalam Puri, tapi pengunjung biasa seperti saya ini hanya diperbolehkan sampai sini saja. Hanya bisa mengintip sedikit ke dalam. IDR0 (untuk intip nya, hihi)

image
Tempat pementasan tari
image
Alat musik

Kami melanjutkan berjalan kaki menuju Pasar Ubud, pasar yang ramai menjual karya Seninam Bali, tapi yang kami cari adalah tempat makan, kami cari nasi (Domestik banget sih ya), masuk ke dala pasar akhirnya kami menemukan sebuah warung makan dengan menu Nasi. Kami makan dan pulang. IDR94.000

image
Relief Barong di dalam Puri

Pulang dengan naik jasa ojek yang sama, aku menyempatkan singgah di Pabrik kata-kata Joger, di Kuta. Hanya 11 km  jauhnya dari Bandara, dengan ongkos IDR15.000 kamu sudah bisa sampai di tempat ini, asal kamu datang sebelum jam 10 malam, maka akan tetap buka. Kini saatnya kembali ke Bandara dan pulang.

Selalu ada harga untuk setiap pengalaman, tapi menurutku kamu patut mendapatkan makna nya, berapapun harganya. Untukmu yang percaya bahwa hidup ini hanya sekedar transit, kamu selalu punya pilihan untuk menikmatinya, atau melewatinya begitu saja atau benar-benar mengisi sepenuh-penuhnya untuk Jiwa mu. Selamat mengisi, selamat transit. Om Swastiastu.

image
Sedikit melihat ke dalam (teknik mengintip)

HARUNDA, senilai perjuangan

“Harunda” yang pantas diperjuangkan

Sabtu sore aku dan beberapa anak SISPALA (siswa pecinta alam) di SMA Negeri 1 Lewa sepakat untuk mengunjungi Harunda di Matawai Kurang, sebuah desa yang masih termasuk dalam kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, NTT.

Minggu pagi kami berkumpul di titik kumpul di simpang Kondamara, di depan Pasar Inpres Lewa. Beberapa siswa rela tidak pergi ke Gereja namun menggantinya di sore hari. Setelah memastikan bahan bakar mencukupi untuk perjalanan kurang lebih 30km kearah utara, rombongan sepeda motor kami melaju dengan kecepatan rata-rata 60km/jam. Hanya sekitar 10 menit tibalah kami di desa Rakawatu, ada simpang menuju desa Matawai Kurang, memasuki simpang jalanan lebih sempit, beberapa bagian aspal sudah berlubang dan sebagian lagi jalan pengerasan (batu putih).  Jalanan yang berliku dan relatif lebih sempit membuat laju motor kami melambat.
Rombongan berhenti di rumah paling ujung, kami menitipkan motor dan mulailah pejalan kaki berkuasa. Rombongan dibagi menjadi 3 grup. Grup pertama adalah penunjuk jalan dan orang-orang dengan kecepatan jalan di atas rata-rata. Grup kedua dengan kecepatan rata-rata, dan grup ketiga dengan kecepatan jalan santai karena ada anak-anak di grup ini.

image
Penunjuk jalan

Mulailah kami menyusuri selokan dengan air jernih, kemudian berbelok ke kanan memasuki ladang jagung milik warga, terus sampai ke area persawahan dan ladang jagung lagi. Sebanyak 2 kali kami harus melompati pagar kawat ladang, yang biasa digunakan penduduk untuk melindungi tanaman dari hewan ternak jinak maupun yang liar.
10 menit menyusuri pematang, masuklah kami ke padang alang, tingginya se-pinggul orang dewasa, hijau, sedikit basah dan perih mengiris, memaksa kami mengangkat tangan. Kami hanya mengikuti jejak grup pertama yang menyisakan alang yang rebah dan membentuk kelokan-kelokan sempit di tengah rimbunnya padang sabana.

image
Alang

Padang sabana terlewati sekitar 20 menit, rombongan kini melewati jalanan bekas mobil, (Apa?? Buat apa tadi jalan kalau ternyata sampai disini kendaraan bisa masuk??) . Jalanan licin dengan tanah merah menuntun kami menuju Harunda. Kecepatan jalan kami meningkat, menyisakan jarak yang teramat jauh antara grup satu dengan yang lain. Kaget saya menemukan motor terparkir di ujung jalan, HAH?? Yang benar saja? Kenapa kita harus jalan??

image
Ini maksudnya apa coba?

Dari tempat parkir si motor, mulailan jalanan menurun, alang tidak lagi tinggi, hanya setinggi lutut atau tidak lebih. Hijaunya sabana menyambut kami, seakan memberi kami semangat dan berbisik lewat angin
“Luaskan pandangan, seluas semampumu, hingga kamu merasa cukup, maka tak perlu lagi kamu mencari, karena yang dicari ada di dalam diri Mu”

Telinga kami mendengar suara air di sebelah kiri, maka kaki kami secara otomatis mengubah jalur semakin ke kiri. Dari atas bukit kami mendapati grup pertama sudah sampai di sungai, berdiri Raymond disana melambaikan kedua tangan kearah kiri (kanan nya kami), menandakan kami salah jalan. Maka kami kembali naik ke atas bukit, mengambil jalan ke kanan terus sampai kami menemukan jalan merah licin seperti bekas longsor.

image
Tempat kami tersesat

Setelah beberapa kali terpeleset dan jatuh (hanya aku sih, yang lain tidak) kami harus menerobos pepohonan rimbun di tepi sungai, rotan menjalar liar, pohon kecil dan rapat memaksa kami harus “ndlusup”  dan lagi-lagi terjatuh (hanya aku lagi).
Tibalah kami di sungai, aku duduk di atas batu, di bawah pohon daun Jarum, gemetar kaki tak bisa ditahan, membuatku harus mengistirahatkan kaki dan rasa panik ku yang selalu datang tanpa permisi Lancang.

image
Lihat kanan atas (rute yang telah ditempuh)

Dan, ini dia Harunda, air sungai yang terbelah menuruni tebing batu kokoh menyatu kembali membentuk huruf  “V” dan ini artinya “Vantastic”, upss maksa ya. Hihi

image
Vantastic, maksa

Tempat ini perlu diperjuangkan, seperti kamu yang harus memperjuangkan ku, LOH.
Setidaknya satu jam penuh kami berjalan kaki, dan izinkan aku membaginya untukmu yang mau ke Sumba.

image
Lebih dekat dengan Harunda