One day trip Wae Rebo (end part)

Pukul 12.00 WITA. Aku sudah tidak dapat lagi berkata, impianku terwujud hari ini, jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dadaku terasa lapang, lelahku terbayar, ujung mataku basah, hanya bisa menatap rumah-rumah kerucut dengan atap alang menghitam, tanduk kerbau di tiap puncaknya, rumput hijau terpangkas rapih, kabut tipis menerpa bukit hijau tua di belakang rumah, altar lingkaran berada di tengah seakan menjadi poros kampung ini. Terimakasih Tuhan, terimakasih semesta mengijinkanku menatap langsung Wae Rebo.

Kami diterima di rumah Utama atau rumah Gendang, rumah yang menghadap persis di depan altar dan piramida dari batu yang disusun, di rumah Gendang ini kami melakukan adat terlebih dahulu, dengan memberikan mahar seikhlasnya, sang ketua adat, seorang kakek kira-kira berusia lebih dari 70 tahun, mengenakan penutup kepala seperti peci namun berbahan dasar kain tenun dan sarung Manggarai kotak-kotak kecil.

Beliau bersila tepat di tengah rumah gendang di depan perapian, aku, temanku dan Ino duduk di atas tikar pandan di sekeliling diameter rumah lingkaran ini. Ikut melipat kaki.

Dengan bahasa daerah ketua adat memulai adat, setelah ku menyerahkan mahar kepadanya dan mengatakan asal kami. Kurang lebih begini artinya:

Nenek moyang, leluhur Wae Rebo, perkenalkan mereka adalah tamu kami yang berasal dari Jawa, mereka sudah meminta izin dengan baik dan sudah memberikan mahar kepada kami di kampung ini, izinkanlah mereka untuk bertamu disini, jagalah mereka selama berkunjung di desa ini, apabila mereka melakukan hal yang tidak berkenan di hati leluruh, maka maafkanlah. Dan apabila mereka kembali ke Jawa meninggalkan desa ini, tolong leluhur kami atapun hal yang tidak baik jangan ikut serta bersama mereka.

Acara adat selesai, kami baru diperbolehkan mengambil gambar atau pun merekam video. Di rumah Gendang atau rumah utama ini terdapat 8 kamar di sekeliling ruangan, masing-masing kamar untuk satu kepala keluarga. Dari sisi tempat ku duduk aku menebar pandangan ke sekililing, gendang dan gong yang tergantung di tiang bagian depan dan atap yang menghitam terkena api setiap hari serta jerigen air dan 2 orang nenek yang terlihat masih sehat meski rambutnya memutih dan badannya sudah membungkuk terlihat sedang menikmati seduhan kopi.

Oleh seorang pemuda (aku lupa menanyakan namanya, mari kita sebut dia kakak), kami diantar menuju Rumah Tamu, Rumah Tamu adalah rumah paling kanan di desa adat wae Rebo, rumah tamu tidak sebesar Rumah Gendang, dan tidak terdapat kamar-kamar, hanya tikar pandan yang berjejer rapih di sekeliling dinding alang dan beberapa bantal dari pandan yang diperuntukan untuk alas duduk.

Di rumah ini kami disuguhi kopi Manggarai, kopi yang ditanam sendiri oleh penduduk Wae Rebo dan pengolahannya pun masih manual, dengan ditumbuk menggunakan lesung.

Setelah minum kopi, kami disuguhi makan siang, dengan menu hasil panen Wae Rebo, yakni nasi, sayur labu siyam dan pucuk labu kuning, krupuk yang terbuat dari singkong tanpa garam (ini enak banget) dan telur dadar. Makanan dibawa dari dapur yang terdapat di belakang, terpisah dari ruang tamu.

Selesai makan, aku dan Ino segera berfoto dari atas bukit, untuk bisa melihat secara keseluruhan Wae Rebo, beberapa pemuda nampak menggotong kursi plastik dari TPS yang terdapat di bawah desa Wae Rebo yang ternyata daftar pemilihnya mencapai 120 pemilih.

Di dahan pohon jeruk sudah ada bapak setengah baya sedang memanen jeruk, anak kecil memunguti jeruk yang berjatuhan, mama dengan rambut terikat dan bersarung sedang menjemur kopi hasil panen, seorang bapak menguliti kopi di sampingnya.

Kakek yang lebih berumur terlihat sedang memikul kayu bakar yang ia kumpulkan. Betapa sederhana desa ini, batinku.

Satu pelajaran kudapat dari perjalanan ini, dengan mengunjungi tempat baru, sudah tentu kita menemukan banyak hal baru, teman, kenalan, pengetahuan, pengalaman dan yang terpenting pemikiran kita yang semakin terbuka. Bukan mencari mana yang terbaik, melainkan melihat setiap kebaikan dari semua yang terlewati.

Setelah berfoto dan beristirahat, kami memutuskan untuk berpamitan, dan kembali ke Ruteng. Perjalanan pulang selalu terasa lebih ringan daripada saat pergi, menyiapkan lutut untuk menahan laju kaki yang tak terkendali dan mengantisipasi terpeleset karena batuan yang licin.

Kami mulai berjalan pukul 14.00 WITA, berpapasan dengan beberapa rombongan yang kesemuanya berasal dari luar NTT dan bahkan luar negeri. Perjalanan turun diwarnai banyak cerita yang notabene tidak bisa kami lakukan saat perjalanan mendaki, energi kami terkuras untuk mengatur nafas.

Pukul 15.30 WITA tepat kami sampai di pos polhut/ pos 1, bertemu dengan belasan turis asing yang baru akan memulai pendakian. Meminta foto dengan bermodalkan bahasa inggris yang broken (kata Prof. Karjo), dan kami kembali melaju diatas motor menuju Ruteng.

Pukul 19.08 WITA kami tiba di Ruteng, dinginnya tanpa ampun. Malam itu juga aku memutuskan untuk memesan travel, menuju dermaga Aimere, mengejar KMP Inerie yang akan membawaku kembali ke Sumba.

Video perjalanan ke negeri diatas awan bisa cek disini https://www.instagram.com/p/BxDhj6aA8NH/?utm_source=ig_share_sheet&igshid=4ottrdq8mtct

Iklan

One day trip Wae Rebo (part 3)

Pukul 05.30 WITA, suster sudah menyiapkan sarapan di tempat makan, malam sebelumnya suster menanyakan pukul berapa aku akan bertolak menuju Wae Rebo. Setelah menghabiskan selembar roti tawar dengan selai strowberi dan sepiring nasi goreng tanpa telur, aku siap menuju Wae Rebo.

Teman yang sudah bersedia menemani ke Wae Rebo akhirnya datang pukul 06.30 WITA. Malam sebelumnya temanku sudah menyewa sebuah motor di Kopi Mane. Tanpa menunggu lagi kami segera menuju ke Wae Rebo, kami hanya singgah untuk mengisi bensin eceran karena SPBU belum buka sepagi itu.

Jalur yang kami pilih dari kota Ruteng adalah jalur Ulumbu, Ulumbu adalah sebuah pembangkit listrik di pesisir selatan pulau Flores, mengikuti penunjuk jalan menuju Ulumbu, jalanan berliku menjadi tantangan di jalur ini, ada jalur satu lagi dari kota Ruteng menuju Wae Rebo yang lebih nyaman, yakni jalur selatan melewati Todo Narang.

Namun karena keterbatasan waktu, kami memilih jalur terpendek menuju Wae Rebo.
Jalan seribu lubang dan berliku menghiasi perjalanan kami, namun itu tidak menyurutkan laju roda dua. Melintasi bukit yang menjulang, terus mendaki dari kota ruteng dan sampailah kami di titik balik perjalanan, nama tempatnya adalah Lusang.

Dari titik ini kami tidak lagi menanjak, kami terus menurun. Sekitar 40 km kami tiba di pesisir selatan Ruteng, pemandangan berganti menjadi pantai biru dengan batu hitam berhamburan, seakan pantai ini tanpa pasir.

Sampailah kami di desa Dintor, perkampungan nelayan ini ramai dengan penyeberangan menuju pulau Nuca Molas, beberapa penjual ikan hasil tangkapan nelayan menawarkan ikan diatas meja kayu yang sesekali di kebas dengan pengusir lalat. Dari desa Dintor ini kami mulai menarik lagi tuas gas motor, menuju ke atas bukit, tempat negeri di atas awan.

Berjarak sekitar 4 km dari desa Dintor kami sampai di desa Denge, di sebuah SD di Denge ini dahulu menjadi basecamp pendakian menuju Wae Rebo, kini dari desa Denge kami masih bisa menggunakan motor untuk sampai di pos Polhut atau pos 1 pendakian Wae Rebo. Menghemat 3 km.

Kami parkir di bawah pos Polhut, tanpa juru parkir. Dan tenang saja, motormu aman. Ingat untuk menitipkan helm atau barang yang tidak akan kamu bawa di sebuah rumah di dekat tempat parkir. Dari titik ini, siapkan kaki yang kuat, jiwa yang sehat dan air minum.

Pukul 10.00 WITA, ditemani Ino, bocah kelas 2 sekolah menegah pertama yang bersedia menjadi penunjuk jalan , kami bertiga memulai perjalanan yang sebenarnya. Kecepatan berjalan Ino memang diatas kecepatan jalan ku. Alhasil aku selalu tertinggal di belakang, pendakian 5 km dengan kemiringan 45 derajat, zig-zag tanpa ampun, jalan rata hanya 3 meter kembali mendaki lagi.

Nafasku terdengar dari jarak 2 meter, keringat mengalir di tubuhku, bajuku basah oleh keringat. Melihatku selalu tertinggal Ino mulai mengurangi laju jalan nya. Tipe berjalanku lain dengan Ino, Ino bahkan bisa mendaki tanpa beristirahat, sementara aku tipe 5:1, 5 menit jalan 1 menit istirahat.

Pukul 11.06 WITA kami sampai di pos 2, di pos 2 kami disuguhi panorama yang memberi kami semangat lagi untuk melanjutkan pendakian. Cuaca cerah hari itu, kabut tipis menutupi punggungan bukit dan dari pos ini kami bisa melihat jelas laut diantara 2 bukit. Mempesona.

Sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan pengunjung lain yang menginap di Wae Rebo dan turun pada pagi hari, semua pengunjung domestik yang berpapasan denganku berasal dari Jawa, dan beberapa turis asing.

Saat kutanya Ino, Ino mengatakan kalau setiap hari ada turis asing yang datang ke Wae Rebo. Kami juga berpapasan dengan penduduk Wae Rebo yang sedang turun ke Dintor untuk menjual hasil panen, sayur labu atau biji kopi dipanggul atau di gendong dalam karung. Beberapa menggendong anak kecil di atas tengkuk, dengan ramah mereka menyapa “Selamat Pagi”, tidak satupun yang tidak menyapa.

Beruntung satu orang kakek yang membawa buah jeruk menawari kami untuk makan jeruk, jeruk yang baru dipetik, masih segar, kakek segera mengeluarkan parang dari sarungnya dan membelah jeruk untukku. Jeruk tersegar yang pernah kumakan.

Sering ku bertanya pada Ino, pertanyaan klasik seperti:
“Ino, masih jauh?”
“Ino, masih lama?”
“Ino, jalan datarnya mana?”
“Ino, kapan jalan menurunnya?”
“Ino, kapan aku nikahnya? Eh maap
Dan jawaban Ino teramat Klise. Kamu pasti bisa menebak jawaban Ino kan?

Pukul 11.48 WITA kami tiba di jalan rata, seperti mendapat energi dari semesta (elaahh) laju jalan kami semakin cepat, tanpa rem. Dari titik ini jalanan sudah mulai menurun, menuju desa adat. Kami sudah bisa melihat atap rumah adat, tidak lama lagi kami akan sampai.

Kami melewati jembatan bambu yang ternyata sekarang sudah patah, digantikan jalur di sebelahnya yang agak memutar. Berjalan lagi tibalah kami di rumah singgah, bernama rumah Kasih Ibu, rumah panggung dengan papan hanya setengah ini digunakan untuk singgah dan beristirahat setelah pendakian panjang yang belum pasti akan berujung dimana (ngelantur nyet).

Di rumah Kasih Ibu ini terdapat bambu yang dibelah, biasa dibunyikan dengan cara menggoyangnya, aku ingat aku pernah membunyikan bambu seperti ini kala aku masih berseragam putih merah, ini seperti membawa kenangan kembali di depan mata, tanpa ragu aku mengerahkan sekuat tenaga untuk membunyikan bambu sebagai penanda ada tamu yang datang.

Dari rumah singgah hanya 2 menit saja untuk sampai di pekarangan Wae Rebo.

Sehari di Ruteng, bisa mengunjungi tempat-tempat ini. (One day trip Wae Rebo part 2)

Aloysius, seorang petugas bandara dengan seragam atasan putih dan celana biru tua, dari namanya sudah bisa ditebak keyakinan yang dia yakini. Ah..Indonesia. Nama saja bisa menunjukkan status agama yang diyakini.

Senyumnya ramah, ia menghampiriku yang duduk sendirian di bangku terminal kedatangan.

“Itu barang bagasi punya kakak?” ia bertanya sambil menunjuk tas porter berwarna oranye yang tergeletak di ujung …… .

“oh iya, punya saya.” Jawabku terkaget karena fokus membaca spanduk hotel.

“sudah ada yang jemput?” tanyanya tulus

“tidak, saya tidak dijemput” jawabku sambil membalas senyumnya

“mau kemana di Ruteng?” tanyanya lagi, dengan logat khas manggarai yang menurutku terlalu cepat dan bertubi-tubi.

“belum tau sih, rencananya mau menginap di Susteran, apakah boleh muslim menginap disana?”

“Susteran MBC? Boleh saja.” Jawabnya mantab lantas memintaku mengikutinya setelah dia menawarkan diri untuk mengantarku ke penginapan tersebut.

Hanya sekitar 7 menit melaju diatas motor, sampailah kami di Susteran yang dimaksud.

Susasana Susteran begitu hening, kulihat ada beberapa suster yang sedang beraktifitas mendampingi anak-anak usia sekolah dasar di bawah gazebo, yang lain sedang berjalan berkelompok meunju gedung lain.

Susteran ini terbagi menjadi 3 gedung, kesemuanya terdapat ruangan yang bisa disewakan sebagai penginapan. Untuk tipe single biaya penginapan Rp.200.000,-, sedangkan untuk tipe twin harganya Rp. 350.000,-. Ada juga family room yang bisa disewakan di penginapan ini.

Bangunan penginapan ini terbilang cukup antik, dengan balkon dan jendela-jendela besar, cat merah bata, serta rumput dan taman yang tertata rapih. Di belakang penginapan kita bisa melihat bukit menjulang hijau yang sedikit tertutup kabut di siang dan sore hari, dari depan penginapan kita bisa melempar pandang ke pusat kota Ruteng.

Sebelumnya kucari tahu tentang kota Ruteng, dan kali ini aku akan membuktikan kebenaran bangunan kuno dari masa penjajahan yang masih terawat hingga kini.

Tujuan pertamaku menuju gereja Katedral di tengah kota Ruteng. Hanya berjarak 4 km menuju gereja tertua di kota Ruteng.

Gereja dengan 3 menara, ber cat warna krem kombinasi abu-abu, halaman rumput yang rutin dipangkas, serta taman berada di sekeliling gereja, pohon cemara menjulang tinggi seakan bersaing dengan menara gereja. Tepat pukul 12 siang, Koster menarik tali lonceng di menara gereja, menandakan tengah hari. Burung gerja bersahutan mengikuti irama lonceng gereja.

Segera kulanjutkan perjalanan menuju ke Kampung Ruteng, kampung adat Manggarai yang berada di tengah kota ini hanya berjarak 3 km dari gereja Katedral, amat mudah ditempuh karena sudah terdapat penunjuk jalan menuju kampung ini.

Sesampai di Kampung Ruteng, suasananya ramai, banyak orang dan kendaraan roda dua yang terparkir disana. Ternyata kampung ini menjadi salah satu TPS di pemilu 2019 ini. Karena mengaku dari Ruteng, kami diizinkan masuk tanpa membayar retribusi. Seorang pemuda membersamai kami berkeliling kampung Ruteng dan bercerita sedikit tentang sejarah kampung.

Ada 5 unsur utama dalam sebuah kampung di Manggarai, yakni rumah adat, Compang atau altar, Natas atau halaman, sumber air dan kebun. Altar berbentuk lingkaran terdapat di tengah halaman, dan dikelilingi oleh rumah adat.

Di bagian luar halaman terdapat jalan yang disusun menggunakan batu dan dibuat 3 berundak, bukan tanpa makna, undakan ini konon mempunyai fungsi masing-masing. Undakan paling atas dipergunakan untuk jalan para raja atau orang penting menuju rumah, undakan kedua digunakan oleh rakyat biasa, dan undakan paling bawah digunakan untuk hamba.

Pohon beringin besar terdapat di kanan perkampungan, menyediakan sumber mata air bersih di bawahnya, kebun berada di belakang rumah adat. Di depan altar terdapat 2 buah gundukan berbentuk piramida dengan 4 tangga, seperti salib.

2 gundukan ini mempunyai kegunaan masing-masing. Gundukan yang lebih tinggi berdekatan dengan kampung digunakan raja untuk memberikan berita ataupun pegumuman bagi warga, sedangkan gundukan satunya lagi yang lebih rendah digunakan sebagai tempat mengadili warga yang bersalah.

Gundukan ini tersambung dengan tatanan batu sekaligus menjadi sekat antara kehidupan dan kematian. Ujung tangga altar yang lebih tinggi menuju kampung, dan ujung altar yang lebih rendah menuju pemakaman yang tepat berada di sisi kiri kampung adat.

Di halaman terdapat batu yang sengaja disusun berdiri, ini digunakan untuk mengikat kuda yang dulu menjadi alat transportasi para raja. Dan terdapat pula beberapa batu yang lebar dan rata, digunakan untuk para pemukul gendang dalam tarian adat Manggarai.

Rumah gendang atau rumah utama dari sebuah kampung adat di Ruteng menjadi rumah yang paling besar dan tidak sembarang orang bisa masuk, bahkan ada satu kampung di Todo, berada di sebelah selatan dari kota Ruteng. Dalam rumah gendang di kampung Todo terdapat satu gendang yang terbuat dari kulit manusia. Serem gak sih?

Menurut orang Manggarai, dahulu ada 2 orang raja yang memperebutkan satu perempuan, karena mengetahui bahwa sang perempuan ini memilih salah satu raja, maka Raja yang tidak terpilih memutuskan untuk membunuh sang perempuan dan menjadikan kulitnya sebagai gendang. Merinding aku nulis ini..

Tak terasa, hari sudah gelap ketika aku memutuskan untuk mencari makan, perut sudah protes karena belum terisi sedari siang. Membeli makanan di Ruteng menurutku terjangkau, dan mudah menemukan rumah makan halal disini.

Kembali ke Susteran pada pukul 7 lewat, pintu Susteran akan ditutup pada pukul 22.00 WITA. Di ruangan bawah terdengar para suster sedang berdoa, aku segera menuju kamar, menikmati air panas yang kontras dengan dinginnya air Ruteng, berselimut 3 lapis untuk menghalau hawa dingin. Segera istirahat karena esok, Wae Rebo…I’ll see you soon!

Susi Air dari Waingapu ke Ruteng (One day trip Wae Rebo part 1)

Pesta Demokrasi, 5 tahun sekali. Pukul 06.30 WITA aku sudah berada di TPS 06 Desa Kambata Wundut, berharap aku menjadi orang pertama yang menggunakan haknya untuk memilih, Model A.5 yang kudapat dari KPU di Waingapu menjadi modalku untuk memilih meski dengan hanya 1 surat suara berwarna abu-abu.

Hatiku tidak sabar, tiket pesawat sudah kupesan satu hari sebelumnya, check in akan ditutup pukul 08.30 WITA, sementara jarak TPS menuju bandara adalah 1,5 jam.

Resah hati yang tak sabar menunggu membuat semua terasa lambat, namun waktu berjalan begitu cepat, sampai pukul 07.25 tak jua TPS dibuka untuk pemilih. Aku putuskan untuk membatalkan nyoblos, karena aku segera melaju bersama Minthi, Honda 70 yang nyatanya tak bisa ngebut untuk sekedar mengejar pesawat Capung Susi Air. Kutarik gas semaksimal mungkin, tapi kurasa Minthi tetap pada pendiriannya, “Alonalon waton kelakon”(bahasa jawa : pelan -pelan asal sampai)

Sudah 6 kali panggilan tak terjawab dari bu Ita, sahabat yang akan mengantarku ke bandara. Sampailah aku di jalan menuju rumah bu Ita, kami berpapasan, aku berhenti, pindah ke motor satunya lagi dan bergegas.
“Cepat, sudah lambat ini, tidak bisa check in duluan, karena harus ditimbang.” kata bu Ita sambil menyerahkan KTP dan tiketku.

Aku merapal doa di sepanjang perjalanan, ya Allah ijinkan aku, ijinkan aku.
Pukul 08.48 WITA aku sampai di bandara, berlarian menuju pintu keberangkatan, menyerahkan KTP dan tiket kepada petugas. Hatiku menciut mendapati meja check in Susi Air kosong, tidak ada petugas.
Aduh, aku telat.

Sampai, 2 orang petugas check in muncul dari balik meja, tersenyum dan bilang
“mari kakak, masih bisa check in.” “Alhamdulillah” ada beban yang terlepas dari dadaku.

Menimbang barang yang akan masuk bagasi pesawat, bagasiku hanya 5 kg, setengah dari kapasitas yang diberikan maskapai secara cuma-cuma. Setelahnya aku diminta naik ke atas timbangan beserta semua barang bawaan yang kubawa. Petugas mencoret boarding pass dan mempersilakan aku menunggu di ruang tunggu.

Kurang dari 10 menit terdengar pengumuman penumpang pesawat Susi Air tujuan Ruteng untuk masuk ke pesawat melalui pintu 2. Melihat pesawat ini membuatku sedikit takut, namun lebih besar rasa penasaranku. Senyumku mengembang di balik masker. Aku siap menjelajah.

Seorang petugas meminta kami berkumpul di bawah bayangan sayap pesawat, mendemonstrasikan cara memasang pelampung, mengencangkan dan mengembangkannya, tak lupa menginformasikan lampu pelampung akan menyala jika terendam air. Usai demontrasi kami diperbolehkan masuk pesawat.

Pesawat ini berisi 12 kursi penumpang, yang terbagi menjadi 3 baris, baris paling belakang adalah yang paling eksklusif menurutku, karena bisa selonjoran. 1 kursi pilot di sebelah kiri dan 1 kursi co-pilot di sebelah kanan, tanpa sekat antara pilot dan penumpang, dari kursi penumpang kami bisa menyaksikan secara langsung bagaimana pilot menerbangkan pesawat.

2 petugas membantu kami memasang seatbelt yang lebih mirip seatbelt di mobil. Pesawat sempurna take off saat pilot mulai mendorong tuas biru ke depan dan di monitor tertera angka yang semakin bertambah.

Pesawat terbang rendah, dari jendela pesawat kami masih bisa melihat dermaga Waingapu, laut yang memisahkan pulau Sumba dengan pulau Flores, nampak jelas pulau Nuca Molas dengan tebingnya yang unik serta punggungan bukit di pulau Flores, sawah laba-laba, juga menara gereja di kota Ruteng, semuanya nampak begitu jelas dari dalam pesawat.

Apa yang ada di daratan, terdapat pula di monitor di depan pilot, rutenya pun sudah tertera di monitor, jelas terlihat pesawat selalu “follow the red line”, ketika berbelok sedikit makan pilot akan mengatur kemudi untuk selalu “Follow the red line”.

Kurasa hidup juga begitu, bukankah sudah ada red line yang bisa kita ikuti, apapun keyakinanmu dalam hidup ini, kurasa kita semua akan sampai di akhir dari perjalanan ini, just follow the red line from your God.

Menit ke 25 kami sudah berada di atas kota Ruteng, landasan pesawat di bandara Ruteng juga sudah dapat kami lihat. Terkejut ada suara ringtone dari gawai penumpang dan ditambah lagi, si bapak yang punya handphone ini berbicara dengan keras “Iya, tunggu masih di pesawat ini!”
What????

Hawa sejuk menyambut kedatanganku di kota ini. Kota yang menjadi daftar kota yang harus dikunjungi.

30 menit penerbangan menuju Bandar udara Frans Sales Lega, di Ruteng, ibu kota kabupaten Manggarai dari bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu. Aku berharap ada seseorang yang sudah menungguku di pintu kedatangan, dan melambaikan tangannya menyambutku. Baru kuingat aku solo traveller dan planless. Segera ku menebar pandangan ke sekitar, ada beberapa spanduk hotel terjangkau di kota Ruteng, pilihanku tetap jatuh di sebuah penginapan yang kulihat dari Youtube. Susteran Santa Maria Berduka Cita (SMBC).

Resensi Buku Sapiens (Riwayat Singkat Umat Manusia)

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Sapiens (Riwayat Singkat Umat Manusia)
Penulis : Yuval Noah Harari
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Kelima
Jumlah Halaman : 525 halaman
Harga : Rp. 95.000,-
Tahun terbit : 2017

Buku ini dibagi menjadi 4 Bagian utama, bermula dari Revolusi Kognitif, dimana Yuval menjabarkan awal mula semesta ini dan langsung membuka pandangan kita bahwa kita tidak pernah sendirian, bahwa ada banyak keluarga kita dari Genus yang sama yakni “Homo”. Yuval juga menunjukkan data yang mendukung setiap buah pikirnya, seperti kepunahan beberapa spesies yang dia beri judul “Bahtera Nuh”, yang jika kita hubungkan dengan kisah para Nabi saat kita masih kecil itu sangat masuk akal.

Bagian kedua dari buku ini adalah Revolusi Pertanian, Yuval amat sederhana menjelaskan kepada pembaca untuk memahami bagaimana sapiens yang awal mulanya merupakan pemburu-pengumpul kemudian beralih bercocok tanam. Tentu Yuval bukan sekedar bercerita, tapi tetap menyajikan data ilmiah dan tetap mudah untuk kita pahami, bagaimana revolusi ini amat mengubah pola hidup manusia.

Bagian ketiga berisi tentang Pemersatu Umat Manusia, di bagian ini dikisahkan awal mula manusia mengenal uang. Dan benar saja uang memang bisa menyatukan seluruh manusia. Everybody needs money bukan? Selain uang, di dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana upaya manusia mencoba untuk menguasasi manusia lain, dan berujung serakahnya manusia hingga banyak yang harus mati demi kekuasaan.

Ternyata memang dari ribuan tahun lalu manusia sudah menjadi makhluk yang memusnahkan makhluk lain. Buku ini juga mengupas bagaimana awal mula agama dan bagaimana khayalannya mampu menyatukan manusia dalam skala besar dengan mengatasnamakan Tuhan. Namun juga tidak menutupi banyaknya kematian yang diakibatkan manusia yang mengatasnamakan membela Tuhan.

Revolusi Sains menjadi bagian akhir dari buku ini, cepatnya perkembangan di dunia sains yang pasti mengubah manusia itu sendiri. Di awali dengan keinginan manusia untuk mencari keuntungan dan kuasa, diiringi juga berkembangnya penelitian yang pasti didukung untuk menambah keuntungan dan kekuasaan manusia.

Yuval memberikan gambaran kepada kita untuk bisa mengenali diri kita dari 3,8 Milyar tahun yang lalu hingga membuka pandangan kita tentang kemungkinan masa yang mendatang. Buku ini sangat mudah untuk dimengerti meskipun hasil terjemahan. Amat runtut sehingga pembaca mudah untuk memahami isinya.

Selamat membaca dan temukan beberapa hal yang mungkin saja membuatmu merasa banyak hal yang belum kamu ketahui.