A local wisdom part 3 (end)

Hari selasa, sebelum matahari terbit dari arah pantai, masyarakat desa Mondu berbondong ke arah sungai. Disini tidak ada patokan jam, karena masyarakat mempunyai keterikatan dengan matahari sebagai penunjuk waktu. Berkisar pukul 4 pagi, ada oto di seberang sungai, menunggu masyarakat mondu.

image

Belum juga matahari keluar, seberang sungai sudah ramai masyarakat Mondu yang hendak “pi Lewa” atau pergi ke Lewa, kecamatan dimana ada berlangsung interaksi jual beli. Mama, bapak, anak, laki perempuan tua muda berjubel di bak oto dam, membawa hasil panen sawah dan kebun seperti pinang, kelapa, lombok, bunga pepaya dan daun singkong serta jerigen kosong. Tidak jarang ternak yang hendak dijual juga dimuat dalam bak yang sama satu kali. 

Oto akan menuju pasar yang hanya ada di hari selasa, itupun berjarak 2 jam perjalanan, melewati jalan mendaki terjal, melewati bukit sabana Sumba. Penumpang tergoncang kanan kiri, beradu dengan babi yang tidak lama lagi berganti pemilik, menguik di bawah kaki penumpang.

image

Oto sampai di Lewa pukul 6 pagi, aktifitas perekonomian mulai bergeliat, belum juga oto berhenti sempurna beberapa tengkulak di pasar sudah mengerubuti Oto, mulai bertanya dagangan apa yang dibawa dari kampung. Tidak jarang tengkulak ini berebut untuk mendapat barang dagangan dari kampung, beradu kecepatan untuk mendapat sebanyak mungkin dagangan dan membawanya ke lapak-lapak kecil berupa balai bambu diatas tanah becek penuh dengan genangan air hujan bercampur dengan ludah sirih kemerahan bak darah.

image

Si mama dari Mondu tak sempat memberikan harga tinggi, karena tengkulak sudah mematok harga pasaran, terkadang mama tidak bisa lagi mengingat barang dagangannya yang dibawa oleh tengkulak, tak jarang selisih yang dibayar untuk mama membuat mama dirugikan. 

Pulang dari pasar pukul 1 siang dengan membawa garam, kopi, gula, sabun dan minyak tanah di jerigen-jerigen yang kini telah terikat kuat di oto bagian belakang. Siap kembali ke Mondu. Babi sudah berganti dengan polar dan bamal untuk pakan ternak.

Oto kembali penuh dengan bahan pangan untuk menyambung hidup sampai seminggu atau sebulan di Mondu. Meliku kanan, tertolak ke kiri, Oto kembali menuju ke Mondu, menuruni jalanan berliku, menyuguhkan bukit kokoh tak berbatas. Menyapa laut Mondu Lambi.

image

Kisahku di Mondu memberiku satu pemahaman. Inilah jalan yang sudah Tuhan Atur, dengan segala kenikmatan yang luar biasa, keberlimpahan atas segala.

image

Seperti kisah Musa dalam al-kitab, tatkala Musa memohon makanan dari tuhan pada saat melakukan perjalanan bersama kaum nya yang kelaparan, dan Tuhan mengabulkan permohonan Musa. Turunlah berkah dari langit.

Diantara kamu musa ada yang mengambil makanan sebanyak-banyaknya, takut akan kekurangan di esok hari. Ada juga yang mengambil secukupnya yang pas untuk dimakan hari itu tanpa berfikir tentang esok hari. Yang mengambil banyak tidak mampu untuk menghabiskannya di hari itu, akhirnya bersisa dan busuk, sementara yang mengambil secukupnya sudah merasa kenyang.

image

Begitu juga dengan prinsip masyarakat Mondu, barang siapa merasa kekurangan maka dia tidak akan pernah berkelebihan, dan barang siapa merasa berkecukupan maka dia bahagia.

Iklan

Praijing Village

Senyumku mekar ketika dari kejauhan sudah nampak tugu di sebuah perempatan, gagah patung kuda menghias puncak tugu di kota Waikabubak, ibukota kabupaten Sumba Barat. Dari arah barat, tepatnya dari kabupaten Sumba Barat Daya kita bisa menemukan tugu ini di tengah kota Waikabubak, tepat di sebelah kiri terdapat Stadion Mandaelu, dan gereja di sisi seberang jalan.
Masih lurus sekitar 1 km kearah timur, ada simpang ke kanan menuju Kampung adat “Praijing”. Jalanan berkelok melewati area persawahan yang mengering di musim kemarau.

100 meter di depan ada simpang lagi, kendaraan kami mengambil simpang ke kiri, disuguhi beberapa kubur batu yang terasa sunyi di bawah rimbunnya beringin. Setelah jalan mendaki sampailah kami di kampung adat yang sudah berbaur dengan maju nya zaman. Di sebelah kanan gapura pintu masuk kampung, terdapat sebuah denah kampung berbahasa inggris terbuat dari material kayu.

Rasa tak sabar membawa kami segera memasuki kampung dan langsung menuju ke atas, karena kampung ini akan nampak indah difoto dari ketinggian. Sampailah kami di kampung atas, terdiri dari 5 rumah menara, rumah adat khas sumba yang dibangun dengan model panggung, tiang kayu bulat, lantai kayu atau bambu dan atap alang. Moncong babi mengusik tanah di bawah rumah panggung, menatap siapa saja yang lewat di depan rumah.

image
Praiijing atas

Sewaktu kami datang, salah satu rumah sedang ramai, ada acara ulang tahun, sehingga suara musik yang terdengar dari tempat kami parkir membuat suasana kampung ini riuh, belum lagi beberaa pemuda berkelakar dengan tubuh sempoyongan nampak dari luar. Ah…spertinya pesta baru saja dimulai. hehehe

image

Kampung ini tetap terjaga dari arus modernitas, menjadi tetap asri dan bersahaja ditengah hiruk pikuk hedonism. Penduduk kampung yang murah senyum dan ramah menjawab setiap pertanyaan adalah tanda ketulusan hati orang Sumba.meski secara fisik kampung ini tidak berubah dari generasi ke generasi namun tidak dengan cara berfikir penduduk di dalamnya. Penduduk yang lebih terbuka akan perubahan, memahami pentingnya berkembang di tengah modernitas.

image
Selimu bayi, kopi dan sepatu sekolah

Pengunjung kebanyakan berasal dari luar pulau atau bahkan dari ibukota, mungkin yang orang kota rindukan adalah kesahajaan Praiijing. Pengunjung juga bisa menginap di rumah penduduk, bagi yang ingin merasakan sensasi menginap di rumah adat dan segala kesederhanaannya silahkan datang ke Sumba Barat.

image
Praiijing bawah

image

image
Sore di Praiijing

A local wisdom part 2

Seorang putra Mondu Lambi, yang kini menetap di Mondu Lambi. Tanah kelahirannya. Malam ini beliau terlihat bersemangat dengan setelan celana kain hitam, batik hijau motif burung lengan panjang terkait rapih kancingnya. Bersepatu hitam tersapu debu, abu-abu. Kontras dengan kami yang hanya berjaket, sandal jepit yang sama abu-abunya. Adalah bapak Daud Behar. Kepala SDN Mondu Lambi, satu-satunya lembaga pendidikan di desa Mondu Lambi. Terdapat satu SD lagi,  namun letaknya berada di sebrang sungai. Dulu sebelum ada SD ini anak-anak harus menyeberang sungai untuk ke sekolah. Dan tidak akan pergi sekolah ketika musim penghujan tiba. Sungai menghanyutkan. 
Dipeluk dingin hawa malam ini, beliau menyampaikan ucapan terimakasih telah bersedia berkunjung ke Mondu, sekaligus meminta maaf utuk segala kekurangan yang ada di SD ini. SD dengan kondisi bangunan 70% rusak, kaca pecah di hampir semua ruangan, debu tebal menyelimuti meja, buku pelajaran yang hanya tersisa sampul hijaunya tergeletak di lantai . Kamar mandi  dan kloset tanpa air, bagian ini aku tak bisa melanjutkan.
Anak-anak usia SD menatap kami pukau, mengintip apapun yang kami lakukan ,menyembul wajah-wajah mereka diantara pelepah kelapa. Sesekali ikut tertawa dan tersenyum melihatku bertepuk di depan peserta kegiatan ini.

image
Santi di dalam bingkai

Santi, kelas 3 SD membantuku menimba air di sumur terdekat, bocah seusianya sudah masuk di lumpur sawah, mencari ikan untuk lauk makan nasi. Bocah laki berkelompok 3 atau 4 orang, asik bermain karet gelang, dibuatnya sebuah lidi berdiri tegak di tanah, dari jarak tertentu mereka harus berlomba memasukkan karet gelang ke lidi. Di babak selanjutnya mereka melepar karet dari punggung kaki mereka yang tanpa alas kaki.
Beberapa bocah mengintip malu, kala aku singgah di sebuah rumah di tengah sabana, satu dari mereka mengelap ingus yang menghitam kering.

image

Tuan rumah menyuguhkan sirih kering dan beberapa potong pinang di tangawatil. Mama keluar lagi membawa dulang dengan air putih dalam gelas alumunium. Menyuguhkan keramahan yang tiada banding.

image

“LA AWANGU MBINU NA NJAKA”
“NALINGU TAMU”
“NAMA MANAURU”
Mama Yuli mengajari dengan sabar kedua cucunya menari, mengiringi lambaian luwes tangan cucunya dengan lagu, mengulanginya tanpa lelah, berulang meminta kedua cucunya untuk menggelengkan kepala, sambil sesekali memberi contoh.
Mama yang lain memasak nasi yang dicampur dengan jagung yang sudah ditumbuk, meniup api di rumah dapur, di belakang rumah utama, sesekali mengusir anjing yang selalu menyerobot masuk dapur untuk mengais makanan.

image
Beras dan jagung, kombinasi
image
Anjing rumah dan Mama

Masyarakat Mondu jarang menanam sayur, jadi mama hanya memasak sayur yang ada di kebun, daun singkong, daun papaya, buah papaya atau bunga papaya. Lombok dan tomat ada. Dikarenakan kesibukan mengurus sawah yang begitu luas, membuat masyarakat tidak sempat lagi untuk mengurus kebun sayur.
“Mondu Lambi lata lanyir” yang berarti tanah yang sangat subur, baik kebun maupun sawahnya. Utuk ukuran sawah 75 are dapat memanen padi sebanyak 85 karung setara dengan 5 ton beras dan ini tanpa pupuk sama sekali, petani Mondu hanya sesekali memakai pestisida. Hasil panen inilah satu-satunya penghasilan masyarakat Mondu untuk hidup. Tapi itu lebih dari cukup untuk masyarakat Mondu, dengan segala kesederhanaannya.

image

Bersambung ke bagian 3…

A Local wisdom part 1

Sekali dalam hidupmu, setidaknya cobalah untuk menjalani hidup dengan cara yang sederhana, bukan hanya memberi cerita baru dan unik di kisah hidup mu, tapi lebih ke kebijaksanaan yang akan kau peroleh, ini kisahku selama 5 hari dan 4 malam di desa Mondu Lambi.
Tepatnya 19 Oktober 2 tahun silam aku dan beberapa kawan menyengajakan singgah di kediaman pak Arnel di desa Mondu Lambi, kala itu akses jalan satu-satunya menuju desa hanya dapat ditempuh kendaraan roda dua atau berjalan kaki atau berkuda. Dari jalan utama kecamatan Lewa Tidas menuju pantai Mondu Lambi, kami berbelok ke kiri, simpang terakhir sebelum masuk hutan bakau. Kondisi jalan setapak di tengah hutan memberi kesan menyeramkan padaku saat pertama kali datang, dan ternyata di ujung jalan setapak yang kami tempuh terbentang sungai dangkal selebar ± 12 meter dengan riak arusnya yang seakan menampar kesombongan kami yang selalu protes ketika ada lubang di jalan. Satu persatu kami menyeberang, dan melanjutkan perjalanan sebelum matahari terbenam.

image
Sungai yang masih ramah di penghujung kemarau

Melewati persawahan, hijau membentang, kontras dengan meranggasnya pohon di pucuk bukit yang menguning,  penghujung musim kemarau.
Berulang kali aku harus turun dari motor untuk mengurangi beban dikala melewati pematang, tak jarang aku harus mendorong motor agar keluar dari lumpur yang menjebak ban motor yang kami gunakan.

image
Antri melewati pematang

Sungguh iri ketika kami harus bersusah payah melewati pematang dan lumpur, sementara beberapa pemuda berlenggang di atas punggung kuda, melewati jalan yang sama yang kami lalui dengan mudahnya, untuk kemudian turun dan membantu kami.

image
Hijau dan kunig dibawah biru

Sampailah kami di rumah pak Arnel, rumah panggung ber cat warna pink dengan atap menara menjulang gagah di bawah bukit, gagah sekali. Pohon kelapa menjulang di sekeliling rumah, seperti menjadi bingkai rumah, segera beberapa bocah memanjat lincah dengan sebilah parang di pinggang. Berdebum, beberapa kelapa muda berjatuhan, membuat senyum kami mengembang. Keramahan yang disuguhkan lebih dari pengobat rasa lelah kami setelah perjalanan sejauh lebih dari 40km. Kehangatan ini yang membuatku berbisik pada tuhan: “ijinkan aku kembali kesini untuk bermalam”

image
Rumah pak Arnel

Tuhan selalu punya cara yang tidak pernah kita sangka, ajaib. Itu karena memang semua berjalan sesuai rencana-Nya. Akhir September 2017 aku diperbolehkan untuk bermalam di desa Mondu Lambi, hatiku bersorak.
Akses jalan untuk kendaraan roda empat sudah dibuka beberapa minggu yang lalu, membuat kendaraan pengangkut bahan bangunan dan mobil dagangan bisa masuk sampai di desa, dulu sebelum jalan ini ada semua kendaraan roda 4 atau lebih berhenti tepat di seberang sungai, kalau musim hujan tiba, arus sungai tak memungkinkan untuk disebrangi, jadilah desa ini terisolasi.
Pak Yahya, sosoknya tinggi, berkulit coklat tua, mengenakan kain Kombu, tenun ikat Sumba dengan motif kuda bercorak hitam merah dengan sabar menjawab setiap pertnyaan dariku. Pak Yahya sengaja menggunakan pakaian adat karena menyambut kami, rombongan peserta dan panitia kegiatan pramuka, pak Yahya dan beberapa masyarakat Mondu Lambi menari diiringi pukulan gong dan tambur kala kami datang. Suguhan sirih pinang dalam tangawatil, gigi kehitaman dan bibir merah melengkapi keluhuran budi bagaimana masyarakat Sumba menerima tamunya. Rambu, sebutan untuk pemudi, menyuguhkan kopi hitam manis panas dengan lembutnya dibalik kain sarung tenun yang mereka kenakan. Kami sungguh merasa “diterima”, itu lebih dari indah.
Kehangatan, keramahan dan kekeluargaan ini, persis tak berkurang kadarnya seperti 2 tahun lalu, kali pertama aku di mondu. –bersambung–

Selamat petang Sumba

Matari mulai menyembunyikan wajahnya di balik bukit padang sabana, menyisakan semburat kekuningan silau pucuk atap rumah menara. Kuningnya menambah pukau atap alang saat aku melewatinya dengan sepedaku. Aku tersenyum pada tiga anak kecil tanpa alas kaki yang menyapa ku dengan “dahhh”, juga masih kutahan senyumku untuk mama-mama yang menyusui bayinya di bale-bale rumah menara.
Hari ini aku sengaja pulang lambat dari tempat kerja, untuk menikmati momen ramahnya sore Sumba. Riuh kelakar anak kecil di Gereja kampung di simpang jalan ku menuju kos, indah.

image

Sering aku masih ragu akan keputusanku untuk merantau, menjauh dari kedua orangtua ku dengan jarak ribuan kilometer hanya untuk berada di sini, di tempat yang jauh dari ramai, jauh dari hedonisme. Menjauh dari sahabat-sahabat yang selalu asik diajak nongkrong di trotoar, asik diajak jalan mendaki bukit, asik diajak curhat di rerumputan alun-alun kota, asik diajak menikmati geliat kota kecil di kaki Merbabu itu.
Kini, lebih dari 2 tahun aku berada disini, dan masih meyakinkan diriku sendiri bahwa konsekuensi dari keputusanku ini haruslah kuterima, tak akan kuelak.

image

Bahwa setiap diri ciptaan Tuhan Semesta Alam ini punya “guna” dimanapun, sekecil apapun. Bahkan 3 anak kecil yang menyapaku juga berguna untuk Bumi ini, sebagai wujud terimakasih mereka pada sang pencipta. Mereka yang menyediakan kebahagiaan untuk orangtua mereka dirumah, membuat ramai dapur, dan tidak lupa menyediakan air di rumah dengan jerigen kecil yang biasa mereka jinjing tertatih.
Begitu juga mama dengan bayinya, mereka saling memberi satu sama lain, saling menerima satu sama lain, sang mama memberi nutrisi terbaik untuk si bayi, si bayi memberi kedamaian tepat di hati mamanya.
Setiap diri yang tercipta sempurna ini pasti mempunyai “guna” pada semesta, dimanapun diri ini berada disitulah kebermanfaatan untuk semesta itu menjadi nyata. Kita hanya perlu menyadari “guna” diri ini, dan terus berusaha menjadi kebermanfaatan bagi semesta.
Tulisan ini sebenarnya spesial untuk ku yang masih saja belajar untuk menyadari “guna” ku, juga belajar menerima konsekuensi yang tak kupilih tapi harus kuterima. Selamat Petang Sumba.