Resensi Buku Sapiens (Riwayat Singkat Umat Manusia)

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Sapiens (Riwayat Singkat Umat Manusia)
Penulis : Yuval Noah Harari
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Kelima
Jumlah Halaman : 525 halaman
Harga : Rp. 95.000,-
Tahun terbit : 2017

Buku ini dibagi menjadi 4 Bagian utama, bermula dari Revolusi Kognitif, dimana Yuval menjabarkan awal mula semesta ini dan langsung membuka pandangan kita bahwa kita tidak pernah sendirian, bahwa ada banyak keluarga kita dari Genus yang sama yakni “Homo”. Yuval juga menunjukkan data yang mendukung setiap buah pikirnya, seperti kepunahan beberapa spesies yang dia beri judul “Bahtera Nuh”, yang jika kita hubungkan dengan kisah para Nabi saat kita masih kecil itu sangat masuk akal.

Bagian kedua dari buku ini adalah Revolusi Pertanian, Yuval amat sederhana menjelaskan kepada pembaca untuk memahami bagaimana sapiens yang awal mulanya merupakan pemburu-pengumpul kemudian beralih bercocok tanam. Tentu Yuval bukan sekedar bercerita, tapi tetap menyajikan data ilmiah dan tetap mudah untuk kita pahami, bagaimana revolusi ini amat mengubah pola hidup manusia.

Bagian ketiga berisi tentang Pemersatu Umat Manusia, di bagian ini dikisahkan awal mula manusia mengenal uang. Dan benar saja uang memang bisa menyatukan seluruh manusia. Everybody needs money bukan? Selain uang, di dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana upaya manusia mencoba untuk menguasasi manusia lain, dan berujung serakahnya manusia hingga banyak yang harus mati demi kekuasaan.

Ternyata memang dari ribuan tahun lalu manusia sudah menjadi makhluk yang memusnahkan makhluk lain. Buku ini juga mengupas bagaimana awal mula agama dan bagaimana khayalannya mampu menyatukan manusia dalam skala besar dengan mengatasnamakan Tuhan. Namun juga tidak menutupi banyaknya kematian yang diakibatkan manusia yang mengatasnamakan membela Tuhan.

Revolusi Sains menjadi bagian akhir dari buku ini, cepatnya perkembangan di dunia sains yang pasti mengubah manusia itu sendiri. Di awali dengan keinginan manusia untuk mencari keuntungan dan kuasa, diiringi juga berkembangnya penelitian yang pasti didukung untuk menambah keuntungan dan kekuasaan manusia.

Yuval memberikan gambaran kepada kita untuk bisa mengenali diri kita dari 3,8 Milyar tahun yang lalu hingga membuka pandangan kita tentang kemungkinan masa yang mendatang. Buku ini sangat mudah untuk dimengerti meskipun hasil terjemahan. Amat runtut sehingga pembaca mudah untuk memahami isinya.

Selamat membaca dan temukan beberapa hal yang mungkin saja membuatmu merasa banyak hal yang belum kamu ketahui.

Iklan

Camping Ceria Kelapa Tua

Harapan itu aku lihat dari sorot mata bening mereka, semangat itu tidak memudar seperti rona merah di pipi mereka. Anak-anak di kaki gunung Merbabu.

Akhir Desember 2018, kami alumni anggota gerakan pramuka SMA Neheri 2 Boyolali yang tergabung dalam Kelapa Tua (Keluarga Alumni Pramuka Tunas Patria) mengadakan Camping ceria di Damar homestay di Kecamatan Selo, Boyolali.

Setelah kegiatan dibuka secara resmi sore itu, aku diberi kesempatan untuk berbagi cerita dengan adik-adik kelas 6 SD yang sudah menunggu kami dengan kesabaran mereka. Kenyataannya hanya 20% dari mereka yang melanjutkan pendidikan ke SMP, dikarenakan di lingkungan sekitar mereka segala kebutuhan sudah dapat dipenuhi dengan bertani, tanpa pendidikan tinggi. Tidak ada yang salah dengan tidak sekolah menurutku, hanya saja cara kita berfikir dibentuk ketika kita bersekolah. Meskipun aku tahu sekolah tidak benar-benar menjajikan masa depan yang penuh harapan, tapi setidaknya mereka bisa menikmati proses menjadi mereka yang apa adanya. Bukankah sekolah hanya sebuah proses menunjukkan diri kita yang sebenarnya?

Semangat untuk melanjutkan pendidikan ke SMP itu masih bisa kulihat dari tatapan mereka dan jawaban semangat mereka saat Slamet mengatakan hendak menjadi polisi, dan Dika ingin menjadi pembalap. Kami tentu saja tidak dapat mengubah cara berfikir mereka akan masa depan, kami hanya berbagi dan menaruh harapan besar pada mereka akan kehidupan yang lebih baik. Kelak. Semoga.

Kegiatan kami berlanjut menanam pohon jeruk di salah satu Sekolah Dasar di Selo, SD Negeri Lencoh. Dingin di sore itu tidak menyurutkan semangat kami menanam jeruk. Kenapa Jeruk? Kelak kami akan kembali dan melihatnya berbuah, beruntungnya kami jika ada 1 atau 2 burung yang hinggap di dahannya. Sesederhana itu.

Seusai berfoto dengan latar gunung Merapi yang tersapu mentari sore, menawan. Kami kembali ke homestay dan melanjutkan diskusi kami yang lebih banyak di sisipi karaoke, makan malam dan kegiatan bakar-bakar.

Kehangatan suasana berkemah seperti ini yang kami rindukan, dengan menjadi alumni kami semakin jarang berkemah. Dan malam bertabur bintang itu menjadi saksi kami yang sedang bernostalgia. Mengenang keributan setiap kami mengatur posisi di dalam tenda sebelum beristirahat malam, atau mengingat kembali suara peluit dari kakak kelas yang suaranya lebih efektif daripada alarm. Saat kami masih berseragam coklat tua dan coklat muda dengan TKU Bantara di pundak kami.

Keesokan paginya kami di datangi oleh Pak Santoso, pembina kami semasa SMA yang sampai sekarang masih membina Pramuka di SMA Negeri 2 Boyolali. Semangat kakak itu menular kepada kami semua yang akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki meuju Merapi Garden, sekitar 700 meter dari homestay.
Taman itu tertutup kabut di pagi hari, dimana seharusnya kami bisa melihat gunung Merapi dari taman ini, namun kami tetap meikmati kebersamaan ini apa adanya. Bukan merapi atau taman ini yang membuat kami tersenyum pagi itu, tapi kebersamaan ini yang tak bisa di beli.

Mt. Prau via Kalilembu, hanya berdua?

Pemberitahuan penundaan pesawat dengan tujuan penerbangan ke Solo dari Denpasar, malam tanggal 19 Desember semakin membuatku rindu akan rumah dan segala isinya. Merindukan penghuninya. Sebuah pertemuan yang harus dibayar di tiap akhir semester. Delay selama 5 jam lebih beberapa menit, akhirnya aku mendarat juga di bandara Adi Soemarmo di Boyolali dan sudah dijemput oleh orang yang akan ke pasar bersamaku. Ralat, ke gunung.

Sampai di rumah pukul 11 malam dan masih harus bercerita dengan mereka yang juga menunggui kedatanganku, ini semacam ritual di rumah ketika baru sampai. Aku pun harus segera beristirahat untuk esok.

Persiapan naik gunung kali ini disiapkan semuanya oleh si bungsu yang beberapa hari lagi sudah memasuki dunia kerja, dan ini menjadi momen main terakhir bersama sebelum kami benar-benar akan sibuk dengan urusan kami masing-masing.

Adik sudah menyewa satu buah tenda kapasitas 2 orang, cooking set lengkap dengan gas, 2 buah matras, 2 buah sleeping bag dan sebuah tas keril untuk pindah tidur. Atau lebih tepatnya mencari tempat dingin utnuk tidur. Bisa juga mencari kedinginan saat tidur. Apalah.

Setelah berpamitan, pukul 1 siang tanggal 20 Desember, kami menuju Dieng, dipandu oleh Gogle Map yang memperkirakan waktu tempuh 4 jam dengan rute terdekat, melewati Kopeng, Magelang, Temanggung, Parakan, Wonosobo, sampailah kami di Dieng, perjalanan sempat di hiasi dengan hujan deras yang mengharuskan kami beristirahat di bawah gapura desa di Parakan tidak kurang dari 60 menit.

Pukul 6 Petang, kami tiba di Basecamp Kalilembu, Dieng. Kami memilih basecamp Kalilembu karena tidak terlalu ramai jika dibandingkan dengan yang lain, selain itu jalur via Kalilembu ini memiliki jalur pendakian yang nyaman, setidaknya kita dapat bonus 30% jalanan landai. Hore hip hip.

Basecamp kalilembu terletak di bagian Barat gunung Prau, setelah memesan nasi goreng dan teh panas kami menghangatkan diri disekitar Anglo, semacam tungku arang yang digunakan masyarakat setempat untuk menghangatkan badan. Kami berkonsultasi dan mendaftar di basecamp, memutuskan untuk beristirahat di basecamp dan akan memulai perjalanan pukul 11 malam dengan mempertimbangkan suhu yang dingin di puncak, dan kami berdua tidak tahan dengan suhu dibawah 16 derajat celcius.

Di gunung ini dilarang membawa tisue basah dan alat musik, bahkan kami sudah mencoba menawar untuk membawa ukulele tanpa senar ke puncak, akhirnya tetap harus di titipkan di basecamp. Semua ini untuk mennjagga gunung tetap bersih dan tenang ya guys.

Nyatanya basecamp teramat dingin untuk sekedar memejamkan mata. Fiks kami sudah kedinginan dan menggigil di basecamp.
Hanya ada 2 rombongan di depan kami yang mendahului melakukan pendakian ke puncak Gunung Prau. Setelah bersiap dengan kostum perjalanan kami, pukul 23.15 kami berdoa dan memulai pendakian, badan mulai terasa hangat kala kami memasuki lahan pertanian beberapa ratus meter dari basecamp. Napas yang harus menyesuaikan dengan ritme langkah kaki kami, suhu tubuh yang mulai meningkat serta cairan yang terus keluar dari lubang hidung membuat kami memulai perjalanan ini dengan tempo pelan. Teramat pelan.

Setelah melewati lahan pertanian penduduk, kami memasuki hutan cemara yang rimbun, hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di pos 1 dengan jalanan landai. Ah nikmatnya. Dari pos 1 menuju pos 2 masih di kelilingi oleh hutan cemara, namun dengan jalan yang mendaki, bahkan tidak ada jalanan landai. Malam itu dari pos 2 kami bisa melihat gunung Sindoro gagah menanti kami di puncak. Membuat kami kembali bersemangat, meskipun suasana sepi dan hanya ada suara kami berdua di antara rimbunnya cemara.

1 jam 30 menit dari pos 1 menuju pos 2 dengan tak terhitung berapa kali kami berhenti sekian menit atau sekedar mencari tempat kering untuk duduk dan mengistirahatkan pundak, atau minum, atau mengulum permen susu. Dari pos 2 menuju pos 3 kami ditemani cahaya rembulan yang malu-malu malam itu, namun cukup membersamai kami menuju pos 3. Tanjakan semakin terjal, melewati punggungan bukit membuat kami harus berhati-hati menentukan pijakan kaki. Hanya 30 menit untuk sampai di pos 3.

Mulai dingin di pos ini, karena pos 3 berada di puncak bukit tanpa aling-aling, angin berhembus dari selatan dan memaksa kami terus berjalan menuju tempat mendirikan tenda, kami hanya berpedoman pasti ada banyak tenda di camp area. Dan benar saja, jalanan yang landai yang kami tempuh selama 30 menit berikutnya membawa kami sampai di puncak Gunung Prau, What?? Sudah puncak? Celebration dulu..yeiiiii

Lanjut berjalan, menuruni bukit dan sampailah kami di Telaga Wurung, area mendirikan tenda. Beruntung kami tiba di camp area dengan angin yang sudah mulai bersahabat dan tidak hujan. Sigap mendirikan tenda dengan jari-jari yang mulai kaku kedinginan, menata barang kami supaya bisa masuk ke tenda yang ternyata sempit sekali. Benar-benar hanya untuk berdua.

Menyalakan kompor yang ternyata agak ngadat, salah kami adalah tidak mengujinya terlebih dahulu sebelum pendakian. Setelah berjuang meminta api ke tenda sebelah akhirnya kami bisa menyalakan kompor dan pastinya masak mie instan, kali ini kami membawa tahu, daun bawang dan tomat sebagai pelengkap fast food kami.

Pukul 5 pagi kami bangun, setelah melewati tidak kurang dari 3 jam berusaha tidur melawan rasa dingin yang entah mengapa tetap saja lancang menembus 2 lapis sleeping bag kami. Setelah minum susu coklat hangat, kami kembali menuju puncak gunung Prau dan berfoto dengan matahari yang pagi itu pemalu sekali. Kembali melewati camp area, melewati bukit teletubies dan tadaaaa……. sampailah kami di tempat foto yang banyak beredar di instagram. Nyatanya di tempat foto ini ramai. Jadi kami tidak merasa kesepian.

Kewajiban berfoto bersama dan membuat sebuah video untuk Ratu Bawah Laut kami sudah ditunaikan, segera kami kembali ke tenda, makan pagi, dan packing untuk turun. Dalam perjalanan pulang seringkali kita sudah kelelahan, membuat waktu yang dibutuhkan untuk mendaki sama dengan untuk turun.

Dengan siapa kita melakukan perjalanan, memberikan makna dan cerita berbeda, bagaimana aku harus bersikap dewasa karena berjalan dengan si bungsu yang meskipun kini berukuran lebih besar dariku, tapi bagiku dia tetap lah “si Arif kecil” dan aku adalah kakak.

Apa yang murid akan kenang tentangku?

Siang tadi jam terakhir di kelas XI MIA, salah seorang siswa memberanikan diri menghampiriku bersama dua orang temannya, sepertinya mereka sudah membulatkan tekad untuk menyerahkan selembar kertas terlipat 3 kali, berbentuk persegi panjang.

“Ibu jangan marah baca ini ya!” katanya sambil melempar senyum dengan mata setengah tertutup, kedua tangan terjulur dengan kertas diujungnya.
Tentu saja, mana mungkin aku marah, sengaja aku meminta seisi kelas untuk menuliskan kritik dan saran guna memperbaiki proses pembelajaran kimia di kelas mereka, Aku tersenyum kepada mereka tiga dan berucap terimakasih. Meskipun di dalam hatiku ada yang berdebar, tak menentu.

Pelan ku buka lipatan kertas itu,
Di kertas tertulis 3 kritikan untukku, dengan menggunakan bahasa mereka, ditambahkan gambar akan diriku di mata mereka, lengkap dengan kata-kata ancaman. Kata itu aku dapat dari masyarakat setempat untuk mengancam. Tapi dengan logat Jawa yang entah mengapa melekat tak mau lenyap.

Momen itu membawaku mengingat masa-masa aku duduk di bangku SMA, salah satu masa terindah dalam kisah hidup. Juga memunculkan ingatanku akan guruku dulu. Dari sekian banyak guru yang hadir selama study ku, aku dan beberapa kawanku banyak mengingat sosok guru, bukan pelajarannya. Ahh…kami memang nakal. Tapi kami bahagia.

Guru matematika yang sepatunya selalu kinclong, pasti disemir setiap pagi.
Guru PKN yang masih saja menggunakan ejaan lama saat mengajar,
Guru Seni rupa yang nyentrik dan suka bagi-bagi uang,
Guru BK yang kalau jalan di lorong kelas, kami bisa tanda dari dalam kelas hanya dengan mendengar bunyi sepatunya, dan
Guru Kimia yang suka cubit bagian belakang lengan, cubitan kecil yang berasa pedis.hahaha

Dan itu adalah kenangan guruku yang tersimpan di memoriku, ah betapa memoriku penuh sampah. Bukan mata pelajarannya yang kuingat, malah hal yang tidak penting yang melekat.
Dan apesnya, kini aku menjadi seorang guru. Apa ini yang disebut dengan karma? hahahaha

Aku mempunyai sebuah angan, kala melihat siswa sedang serius mengerjakan tugas atau menatap tatapan serius mereka mendengarkanku, angan tentang bagaimana aku di pikiran mereka, apa yang akan mereka ingat akanku?

Akankah mereka mengingat kimia? Mata pelajaran yang aku bawakan untuk mereka.
Atau mereka akan mengingat bentuk kacamataku, cara berjalanku, atau model hijabku. Entahlah.
Tapi satu hal yang pasti, aku ingin meninggalkan kesan penuh kasih di hati mereka. Meskipun aku mempunyai prinsip yang berbeda dari rekan yang lain. Biarlah.

Aku tak ingin mereka hanya mengingat warna lipstikku,
Aku tak ingin mereka hanya mengingat cara berpakaianku,
Aku ingin mereka mengingatku sebagai sosok yang selalu memberi senyum kepada mereka setiap pagi. Cukup.
Mungkin aku harus berusahan keras untuk mewujudkannya, atau mungkin aku cukup menjadi diriku yang apa adanya, menjadi diriku yang seada-adanya.

Flash back
Hari guru tahun 2017, terkaget ada seorang siswa membawa bunga dan selembar kertas lipat berbentuk kemeja datang menghampiriku. Sambil tersenyum ramah dia mengulurkan kertas itu padaku. Dan setelah kubuka, hatiku mekar karenanya.

Resensi Kitab Ilmu Vibrasi

IDENTITAS BUKU
Judul Buku : Kitab Ilmu Vibrasi
Penulis : Arif Rahutomo /Arif Rh
Penerbit : eSKa Publishing
Cetakan : Kedua
Jumlah Halaman : 588 halaman
Harga : Rp. 500.000,-
Tahun terbit : 2018

Kitab/buku ini berisi tentang getaran yag selama ini mungkin saja kita tidak sadari. Dimulai dari pengalaman pribadi penulis tentang perjalanan pemahamannya dilanjutkan mengupas dengan rinci tentang vibrasi /getaran yang menjadi inti dari buku ini dan diakhiri dengan sebuah pemahaman untuk membagikan pengetahuan tantang vibrasi ini kepada yang lain.

Manusia memancarkan suatu getaran tertentu, yang sifatnya listrik sekaligus magnet. Jangkauan atau cakupan getaran ini tidak diketahui berapa jauhnya. Getaran yang dipancarkan manusia ini ternyata mempengaruhi segala sesuatu, termasuk benda-benda disekitar kita. Getaran itu berasal dari dinamika pikiran dan emosi (perasaan) manusia. Kualitas getaran ini bergantung pada isi fikiran dan emosi manusia. Getaran inilah yang selanjutnya disebut penulis dengan istilah Vibrasi.

Vibrasi ini adalah faktor tidak nampak yang dapat mempengaruhi kejadian di dalam hidup manusia. Dijelaskan pula jenis vibrasi yang dapat memberdayakan juga vibrasi yang menghambat keberuntungan datang pada manusia. Buku ini mengkaitkan antara vibrasi dengan keuangan dan juga kesehatan, membuat buku ini sangat aplikatif di dalam kehidupan manusia.

Buku ini memberikan makna tentang vibrasi secara sederhana sehingga dapat dipahami dengan mudah. Membaca buku ini tidak membuat mata lelah karena pengaturan hurufnya dibuat untuk nyaman dibaca. Juga, penulis tidak seperti menggurui, melainkan kita seperti diajak untuk berdiskusi dengan bahasa yang ringan. Membaca buku ini akan memberikan pemahaman secara utuh tentang vibrasi, namun diakhir buku kita diberikan pilihan kembali untuk menentukan sendiri bagaimana kita mengolah vibrasi kita. Buku ini menggunakan bahasa yang kurang baku sehingga terkesan kurang ilmiah, juga kurangnya jeda di tiap bab nya, hingga pembaca mungkin tidak menyadari bahwa sudah berganti bab.

Bagi saya buku ini amat bermanfaat, buku ini mampu menyadarkan saya tentang faktor yang tidak nampak dalam hidup. Dan ini membuat saya lebih aware terhadap emosi dan fikiran saya sendiri. Membuat saya beberapa kali harus membuka kembali, membaca bagian yang benar-benar membuat pemahaman saya bergeser tanpa harus dipaksa melainkan karena begitu jelasnya paparan vibrasi di buku ini. Trimakasih mas Arif Rh.